VCDLN: Mencegah Learning Loss

Views 20

Sejumlah pihak mengkhawatirkan kondisi pembelajaran hari ini yang tidak maksimal. Bersebab pandemi Covid-19, kurang lebih dua tahun, peserta didik nyaris tidak masuk sekolah. Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) karut-marut. Dan, keadaan ini terjadi di seluruh wilayah negeri, bahkan dunia. Namun, dalam konteks pendidikan di Indonesia, boleh jadi, keadaan yang tidak normal ini, dicemaskan membawa dampak learning loss.

Learning loss diartikan berkurang secara drastis daya belajar, berpengetahuan, dan keterampilan secara akademik. Di lingkup penulis, selama dua tahun terakhir ini, peserta didik merasa aktivitas sekolah diliburkan dan tidak belajar apa pun. Walhasil, sememangnya tampak ada keterputusan mata rantai (missing link) tahap pembelajaran. Sementara pembelajaran jarak jauh (PJJ) teranggap tidak efektif. Disebabkan oleh ketidaksiapan stakeholders pendidikan karena bersifat tiba-tiba oleh pandemi, rendahnya kecakapan digital peserta didik beserta guru-dosen, hingga amat minimnya fasilitas untuk mewadahi kegiatan PJJ macam ponsel pintar, jaringan internet, dan komputer.

Secara implementasi kegiatan PJJ, boleh saja mengklaim bahwa peserta didik masih belajar, mengerjakan tugas, dan mendapat nilai. Satu sisi, hal ini terlihat positif. Namun, dalam realitas di baliknya, pendidikan kita ternyata masih berorientasi pada peringkat dan angka sebagai basis pencapaian. Sementara pertanyaan reflektif: apakah peserta didik benar-benar memahami apa yang dipelajari, kiranya tidak terlalu urgen digagas. Ironisnya, hal ini didukung fakta di lapangan bahwa orang tua amat direpotkan dengan tugas-tugas sekolah si anak. Orang tua mendadak menjadi guru; sedangkan banyak para guru sendiri tidak bisa berbuat banyak oleh dampak pandemi.

Seakan-akan menepati momen pandemi sebagai suatu problem, maka oleh beberapa akademisi dari UPI Bandung, menghadirkan semacam “platform” bersebut VCDLN.  VCDLN alias Virtual Community Digital Learning Nusantara, adalah semacam database atau wadah dari sistem yang mampu menampung semua produktivitas dan kreativitas para pendidik; dan dapat digunakan kapan dan di mana saja (halaman: iv). Titik tumpu VCDLN berada di pihak pendidik. Yakni, optimalisasi penumbuhkembangan kreativitas dan kemerdekaan merancang konsep pembelajaran dari para guru dan untuk guru lainnya.

Konsep VCDLN menitikberatkan pada asasi pendidikan yang bersifat kritis-filosofis. Dengan artian, tidak menarget pada patokan angka-angka dan kalkulasi peringkat sebagaimana praktik pembelajaran hari ini. Sebaliknya, para guru disorongkan untuk mengajak peserta didik berpikir kritis tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan belajar. Jika hal ini bisa tersampaikan, kiranya peserta didik mempunyai tanggung jawab pada kegiatan pembelajarannya.

Lebih mendalam lagi, VCDLN adalah medium peningkatan kapasitas dan kapabilitas pendidik. Maklum, hingga hari ini, problem pendidikan kita juga menempatkan adanya kesenjangan kualitas pendidik. Dalam platform VCDLN itulah, kiranya para guru profesional/mumpuni bisa saling berbagi banyak hal seputar cara-cara terbaik penyampaian pelajaran. Wilayah geografis Indonesia yang luas beserta corak budaya yang beraneka ragam, membuka peluang lahirnya inovasi pembelajaran.

WA versus VCDLN?

Ilona Taimela merupakan seorang guru profesional di Finlandia. Kala mendengar pendidikan di Finlandia, kita mungkin menaruh apresisasi dan buru-buru mengadopsi sistem pembelajarannya. Ya, pendidikan di Finlandia seakan-akan menjadi primadona. Sedangkan Ilona, sebagaimana disinggung Ratih D Adiputri dalam artikel Learning Loss di Masa Pandemi (Kompas, 21 Maret 2022), mempunyai kiat-kiat khusus menerapkan PJJ kepada anak-anak Finlandia yang terjebak di kamp tahanan di Suriah.

Ilona mengajari mereka saban hari meski secara terbatas. Namun, satu hal yang patut untuk diuar: Ilona tidak mengajarkan tentang peringkat, angka-angka. Ironi menerapkan pelbagai cara inovatif yang berinti agar anak-anak bisa senang belajar walau di tengah situasi perang plus pandemi. Uniknya, Ilona hanya menggunakan aplikasi Whatsapp (WA) pada ponsel pintar.

Berkaca pada kisah PJJ Ilona, mestinya, dengan platform VCDLN, bisa bergerak lebih maju, inovatif, dan bersifat masif. Titik poinnya sebagaimana pesan implisit penulis buku, adalah peran/kecakapan guru itu sendiri sebagai ujung tombak kesuksesan pembelajaran. Sedangkan VCDLN sebatas medium. Meski begitu, VCDLN tetap teranggap berperan besar membantu peningkatan kualitas guru melalui fitur teknologi. Selepas pandemi, VCDLN bakal terus berperan penting lantaran PJJ adalah keniscayaan dalam era digital seperti sekarang. Selain pandemi, VCDLN amat menunjang dipraktikkan pada kondisi perang seperti tamsil guru Ilona dan pada wilayah yang luas-terpencil.

VCDLN merupakan platform pembelajaran kebanggaan karya anak bangsa. Buku ini mendetail mewedarkan sisi praktis dan teknis operasionalisasi VCDLN. Pada skala terbatas, sudah diujicobakan di lingkup Jawa Barat dan bakal terus dikembangkan. Tak ketinggalan, buku ini menyorongkan perlunya keterlibatan pelaku industri komunikasi dalam perluasan cakupan VCDLN di daerah-daerah yang masih belum terakses oleh layanan virtual.

Database VCDLN dilengkapi layanan weblearning yang beralamat di vcdlnlearning.com dan telah dikembangkan dalam bentuk Mobile VCDLN. Pungkas kata, pendidikan adalah ejawantah keluhuran manusia sebagai laku memperadabkan diri. Apapun kondisi yang mencegah pemerolehan pendidikan, mesti disikapi dengan kesadaran bahwa pemerolehannya tidak boleh berhenti. Lesatan teknologi membantu mewujudkannya dengan tamsil kehadiran platform VCDLN yang teranggap keren ini.  

Data buku:

Judul: Pengembangan VCDLN di Era Pandemi

Penulis: Prof. Dr. Deni Darmawan, dkk

Penerbit: Rosda, Bandung

Cetakan: November 2021

Tebal: 116 halaman

ISBN: 978-602-446-604-6

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.