Agama, Budaya, dan Hidup Sehari-hari

Views 21

Pluralitas adalah keniscayaan. Latar belakang keberbedaan merupakan fitrah manusia. Ragam identitas primordialisme sememangnya terbilang absurd bila dipertentangkan. Seorang Jawa dengan segala perniknya; di saat yang sama, seorang Sunda atau Madura dengan corak istiadat yang melingkupi dirinya. Kesemua identitas bukanlah dimaknai antitesis; apalagi penegasian. Kesemuanya dalam satu aras yang seragam: manusia beserta kemanusiaannya.

Faktor pembeda berupa warna kulit, bentuk fisik, logat bicara, dan semacamnya, tidak bisa dileburkan menjadi identitas tunggal. Membiarkannya adalah langkah yang semestinya. Budaya dan kepercayaan oleh sebagian ahli, merupakan manifestasi dari konstruksi sosial. Maka tak heran, bila suatu budaya turut berkembang dan menjadi kebudayaan baru kala berpapasan dengan kebudayaan lain. Globalisasi turut serta dijadikan dalih bahwa sudah waktunya batas dan sekat dihapuskan seiring perkembangan teknologi-informasi. Globalisasi digadang-gadang membentuk kesatuan tunggal warga dunia yang telah melepaskan identitas budaya/agama muasalnya.

Namun, tesis di atas teranggap kurang akurat dengan tidak kunjung terbukti. Warga dunia hanya tersatukan dalam piranti jejaring komunikasi virtual berupa Internet. Sedangkan negara, budaya, bahkan agama, toh masih eksis. Artinya, baik budaya maupun agama, senyatanya tidak bisa mati. Keduanya bak nyawa yang masih dibutuhkan manusia hari ini dalam melakoni kehidupan yang serba praktis, modern, dan canggih. Justru dengan mengkaji kedua ranah tersebut, boleh jadi mengantarkan manusia pada nilai keseimbangan setelah terjejalkan diskursus lesatan teknologi-informasi yang kaku.

Ada sejumlah alasan mengapa buku tebal dengan tema budaya-agama masih relevan dikaji. Pertama, selain sebagai titik perimbangan sebagaimana paparan di atas, keduanya bisa dijadikan sebagai cara/medium berkomunikasi antarliyan lintas agama dan budaya itu sendiri. Masyarakat Eropa dalam banyak hal, berbeda dengan orang Afrika. Begitu pun Asia, Australia, Amerika. Kesemua warga dunia tersebut dalam batas minimal, tetaplah berpunya asal-usul (budaya-agama) yang berlainan. Kala saling jumpa, praktis masing-masing pihak mestinya berpunya pemahaman dasar berkait latar belakang primordialnya. Hal ini amat diperlukan guna menghindari kesalahpahaman yang bisa menimbulkan segresi maupun konflik.

Kedua, diskursus budaya dan agama pada implementasinya kerap membuahkan sengkarut dan konflik. Agama dan budaya juga dianggap musabab manusia terus dibalut dengan kekerasan, permusuhan, dan peperangan. Agama dan budaya, pada praktiknya pula saling beririsan yang menciptakan upaya untuk merasa superior dan yang lain inferior. Merasa tingkat kebudayaan dirinya lebih unggul ketimbang budaya liyan. Pun, budaya atau agama lain merasa menjadi ancaman terhadap budaya dan agamanya sendiri.

Ketiga, bahkan dalam aspek internal budaya maupun agama, terdapat ragam aliran/sekte. Hal ini juga menimbulkan syak-wasangka satu sekte dengan sekte lainnya. Merasa mazhab-nya paling benar; yang lain salah. Keempat, relasi budaya dan agama pun kerap berjalan kurang harmonis. Keduanya dipertentangkan, dihadap-hadapkan. Satu pihak merasa kehadiran agama menjadi ancaman eksistensi budaya, dan sebaliknya. Di sinilah, oleh buku hasil dari disertasi Ujang Saefullah ini, menemukan relevansi mengapa budaya dan agama masih perlu dikaji hingga hari ini.

Tamsil Sukabumi

Buku ini berangkat dari penelitian perkembangan keberagamaan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di tatar Sunda tersebut, nyatanya, tidaklah terdiri dari masyarakat homogen. Tidak diisi oleh beragama Islam saja, tetapi terdapat pemeluk Kristen, Hindu, Budha, bahkan Saksi Yehuwa. Selain ragam agama yang hadir, penduduk Sukabumi juga lintas suku; meski Sunda menjadi mayoritas. Keberbedaan identitas primordial yang rupa-rupa ini nyatanya pernah bersinggungan dalam narasi provokasi menjurus konflik SARA.

Pertanyaannya: apakah konflik bisa ditiadakan? Ujang dan kita tampaknya tidak sepakat. Lantaran keberbedaan hampir mutlak menimbulkan persinggungan. Dalam pergaulan, kedua belah pihak praktis saling membutuhkan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah bagaimana mengelola ragam budaya-agama untuk menjadi modal bersama membentuk kerukunan dan saling menghormati. Ujang detail merumuskan banyak hal sebab kemunculan konflik budaya-agama. Pun, berkaca dari penelitian lapangannya pula, Ujang membabar variabel terciptanya kerukunan dan upaya menjaga harmoni sebagai bentuk resolusi konflik.

Semisal, diperlukannya dialog lintas iman yang lebih intens dan membumi. Buku ini seakan-akan mengkritik dialog lintas agama yang meskipun sering digelar –utamanya ketika baru terjadi konflik/ketegangan–  toh hanya dihadiri para elite/pemimpinnya. Padahal, akar konflik SARA biasanya terjadi di kalangan masyarakat bawah/umat/jemaat. Karena itu, Ujang berpendapat, mestinya, dialog lintas iman digelar seutuhnya; melibatkan akar rumput. Merekalah yang sebetulnya berada di ujung tombak dan garis depan kehidupan sehari-hari.

Ujang sebagai akademisi di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, ini meletakkan perlunya komunikasi sebagai media maupun cara ampuh guna mengatasi ketegangan di antara umat beragama. Tidak hanya dialog, diktum komunikasi mewujud pada semua elemen yang ada pada setiap unsur agama. Semisal bagaimana bentuk komunikasi seorang tokoh/pemimpin agama terhadap umat/jemaatnya sendiri. Dan, apa saja peran pemerintah selaku pengambil kebijakan mengelola masyarakat yang heterogen pada bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi.

Temuan penting lainnya, bahwa faktor budaya justru menjadi salah satu kunci keberlangsungan keberagamaan yang harmonis di Sukabumi. Pada peringatan Kemerdekaan RI, masyarakat lintas agama di Sukabumi amat kompak, bergotong-royong mensukseskan acara HUT dengan melebur sebagai orang Sukabumi seutuhnya. Pungkas kata, buku ini layak dijadikan referensi utama ikhtiar menghadirkan masyarakat harmonis meski berangkat dari identitas primordial yang berbeda.  Wallahu a’lam

Data buku:

Judul: Komunikasi Lintas Budaya dan Agama

Penulis: Dr. Ujang Saefullah

Penerbit: Rosda, Bandung

Tebal: 404 halaman

Cetakan: Agustus, 2021 ISBN: 978-602-446-569-8

NB: Resensi ini merupakan unggahan ulang; sebelumya tayang di Kabar Madura edisi 17 Februari 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.